27 Oktober 2010

MUSEUM TOSAN AJI


Pada tanggal 13 April 1987 Museum Tosan Aji Purworejo diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Bapak Ismail. Sedangkan prakarsa pendirian oleh Menteri Dalam Negeri, Soepardjo Roestam.

Semula museum berada di Kutoarjo dan dipindah ke Purworejo pada tanggal 10 Juni 2001. Saat ini menempati bangunan bekas Pengadilan pada masa Belanda. Di Museum ini tidak hanya menyimpan benda-benda koleksi tosan aji seperti keris, pedang, cundrik, tombak dan lain-lain. Namun pada perkembangannya banyaknya benda cagar budaya lainnya seperti patung, prasasti, yoni, lingga, lumpang, batu pipisan, guci, batu gong, menhir dan lain-lain.

Koleksi tosan aji yang disimpan terdapat yang berasal dari masa kerajaan pajajaran dan majapahit. Sementara benda cagar budaya berasal dari masa pra sejarah maupun masa klasik.

Di museum juga terdapat gamelam kuno kyai Cokronagoro yang merupakan hadiah dari Sri Susuhunan Pakubuwono VI kepada Bupati Purworejo I, Cokronagoro I.

Alamat :

Jl. Mayjend. Sutoyo No. 10 Purworejo

Telp. 0275-321033

Jam Buka :

Senin-Kamis : 08.00 – 13.00 WIB

Jumat : 08.00 – 11.00 WIB

Sabtu: 08.00 – 12.00 WIB

22 Oktober 2010

KLENTENG THONG HWIE KIONG

Seperti halnya klenteng-klenteng lain di Indonesia, klenteng ini dibangun oleh pedagang Cina yang akhirnya bermukim di Indonesia.

Bangunan ini berada di Jalan Singodranan No. 15, menghadap ke barat dan tepat berhadapan dengan pasar Baledono pada sisi belakang. Arsitektur bangunan berciri arsitektur Cina dengan warna dominan merah sebagai simbol penolak balak terhadap kekuatan roh jahat. Bangunan terdiri dari tempat pemujaan dan asrama pengelola. Halaman depan bagian kanan terdapat prasasti dengan huruf Cina kuno yang isi prasasti belum diterjemahkan dan berangka tahun 1888 M.

Diolah dari sumber :

1. Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Purworejo

2. Foto koleksi Achmad Nangim, SIP

MASJID AGUNG KADIPATEN PURWOREJO (SEKARANG BERNAMA MASJID DARUL MUTTAQIEN)


Masjid Agung Darul Muttaqien dibangun dengan berarsitektur Jawa bentuk Tanjung Lawakan Lambang teplok, mirip Masjid Agung Kraton Solo. Tahun 1833 KRAA Cokronagoro I memerintahkan untuk membuat Masjid Agung, di mana bahan-bahan untuk membuat tiang utama Masjid ini berasal dari kayu jati bang yang mempunyai cabang lima buah dengan umur ratusan tahun dan diameter lebih dari 200 cm tingginya mencapai puluhan meter.

Masjid Agung Kadipaten Purworejo ini dibuat pada hari Ahad tanggal 2 bulan Besar Tahun Alip 1762 Jawa bertepatan dengan tanggal 16 April 1834 M, seperti tercantum pada prasasti yang terpasang di atas pintu utama masjid agung ini. Kemudian dinamakan dengan nama Masjid Agung Darul Muttaqien Purworejo. Masjid Agung Kadipaten Purworejo ini dibangun di sebelah barat alun-alun Kota Purworejo.

Jika Anda ingin mendapatkan buku yang mengupas tentang masjid ini silahkan klik disini.


Diolah dari sumber :

1. Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Purworejo

2. Foto atas (tahun 1931) koleksi Achmad Nangim, SIP

BEDUG PENDOWO

Untuk kelengkapan Masjid Agung Kadipaten Purworejo (Sekarang bernama Masjid Darul Muttaqien), KRAA Cokronagoro I memerintahkan kepada Raden Patih Cokrojoyo untuk segera membuat bedug yang berasal dari kayu jati yang diambil dari hutan Pendowo/Bragolan. Raden Patih Cokrojoyo memanggil Wedono Bragolan yaitu Raden Tumenggung Prawironegoro yang juga adalah adik dari KRAA Cokronagoro I sendiri, untuk bersama-sama melaksanakan perintah tersebut. Akhirnya disepakati untuk membuat bedug besar/agung dengan menggunakan bahan dari pangkal (bongkot) kayu jati bang yang bercabang lima (dalam ilmu bangunan Jawa/Serat Kaweruh Kalang disebut pohon jati pendowo), daerah dimana terdapat pohon jati pendowo ini disebut sebagai dusun Pendowo Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi.

Setelah mendapat restu dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I, maka dimulailah pembuatan Bedug Agung tersebut yang memakan waktu cukup lama sebab peralatan pada saat itu belumlah seperti sekarang ini. Disamping itu saat akan mengerjakan dan pada waktu pengerjaannya, senantiasa didukung dari para ulama dan para pekerjanya untuk memohon kehadirat Allah Swt agar selalu mendapatkan petunjuk serta kekuatan-Nya.

Akhirnya bedug besar/agung yang direncanakan dan dibuat dengan penuh kesungguhan dari bahan pangkal (bongkot) kayu jati bong yang langka bentuk dan ukuran yang luar biasa besarnya telah dapat diwujudkan. Adapun jumlah paku yang digunakan adalah paku keling dari kayu jati untuk memaku kulit bagian depan 120 buah dan kulit bagian belakang 98 buah. Spesifikasi lain yaitu garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm. Keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm. Dibuat sekitar tahun 1762 Jawa atau 1834 Masehi.

Sedangkan kulit bedug dibuat dari :

1. Kulit banteng ukuran garis tengah 220 cm.

2. Bagian belakang pada tahun 1936 rusak dan diganti dengan kulit sapi Benggala (Ongak).

3. Sampai saat ini tahun 2005 telah dilakukan penggantian kulit bedug bagian belakang tiga kali dan terakhir tahun 1996.

Kulit bagian depan masih utuh tetap kulit asli sejak dibuatnya yaitu dari kulit banteng.

Jika Anda inin mendapatkan buku yang secara detil mengupas tentang Bedug Pendowo ini slikahkan klik disini.


Diolah dari sumber :

1. Bidang Kebudayaaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Purworejo

2. Buku Wisata Ziarah Purworejo, terbitan Pemerintah Kabupaten Purworejo, 2006
3. Foto : Drs. Eko Riyanto, Widiharto

BANGUNAN SMA NEGERI 7 PURWOREJO

Berawal dari sekolah pendidikan guru zaman Belanda HKS (Hollands Kweek School) tahun 1915 – 1928. Komplek bangunan ini telah didirikan dengan megah disebuah area yang luasnya 4,6 hektar dengan dilengkapi fasilitas rumah dinas sebagai asrama murid dan guru. Dengan melihat tata ruang yang ada nampaknya gedung ini memang dirancang sedemikian rupa bentuk bangunannya sehingga cukup kondusif untuk tempat belajar selama kurun waktu yang lama.

Dalam perkembangannya HKS kemudian menjadi Sekolah Pendidikan Umum MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) tahun 1928 – 1942. Menjelang kemerdekaan RI sekolah ini berganti menjadi SMP Negeri zaman Belanda tahun 1942 – 1945 dan SMP Negeri zaman Jepang tahun 1945 - 1949. Pada tahun 1950 – 1961 Sekolah Guru (SGB) dan SGA tahun 1958 – 1968, kemudian beralih menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tahun 1968 – 1991 dan juga SPG sore tahun 1968 – 1974.

Pada awal perkembangannya SPG bagian dari komplek sekolah ini juga digunakan untuk Kursus Pendidikan Guru (KPG) tahun 1977 – 1988 serta Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Negeri (PGSLTP) yang dilaksanakan pada sore dan malam hari dari tahun 1967 – 1973.

Seiring dengan keputusan pemerintah meniadakan beberapa sekolah keguruan termasuk SPG maka pada tahun 1991 sekolah ini beralih fungsi menjadi SMA Negeri 3 Purworejo. Selanjutnya tanggal 7 Maret 1997 SMA Negeri 3 Purworejo berubah menjadi SMU Negeri 2 Purworejo dan pada tahun 2004 berubah lagi menjadi SMA Negeri 7 Purworejo.

Sumber : Bidang Kebudayaan Dinas P dan K Kab. Purworejo

Foto : Koleksi H. Achmad Nangim, SIP

19 Oktober 2010

FESTIVAL KESENIAN RAKYAT TAHUN 2010








Hari Jadi ke-1109 Kabupaten Purworejo lebih semarak dengan dilaksanakannya Festival Kesenian Rakyat yang dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2010. Dilaksanakan di Taman Bermain Anak (TBA) dimulai pada pukul 15.00 WIB dibuka oleh Bupati Purworejo yang diwakili oleh Drs. Bambang Aryawan, MM, (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan).

Kegiatan berlangsung hingga pukul 23.00 WIB dengan menampilkan 16 grup dari masing-masing kecamatan.
Pada akhir kegiatan diumumkan grup kesenian dengan penampil terbaik yaitu :
1. Penampil terbaik 1 Kuda Kepang Trisno Budoyo dari Desa Kalirejo Kec. Bagelen.
2. Penampil terbaik 2 Dolalak Mudo Laras dari Desa Hulosobo Kec. Kaligesing.
3. Penampil terbaik 3 Dolalak Putri Pertiwi dari Desa Sumberrejo Kec. Purwodadi.
4. Penampil terbaik 4 Dolalak Sri Kaloka dari Desa Brenggong Kec. Purworejo.
5. Penampil terbaik 5 Kuda Kepang Wahyu Turonggo dari Desa Sruwoh Kec. Ngombol.
Untuk kelima grup diatas disampaikan piala dan uang pembinaan.

17 Oktober 2010

KARNAVAL BUDAYA, 16 OKTOBER 2010






Diikuti oleh UPT Pendidikan dan Kebudayaan, SD, SMP, MTs, SMK, SMA, MA dll. Dilaksanakan pada hari Sabtu 16 Oktober 2010 mulai pukul 08.00 – 14.00 WIB. Rute Alun-alun – Patung Pahlawan – Jalan Sibak – BTC – Pasar Suronegaran – Alun-alun.

GELAR SENI DAN BUDAYA DAERAH










Bertempat di Taman Bermain Anak (TBA) Purworejo pada tanggal 7-9 Oktober 2010 dilaksanakan Gelar Seni Budaya Daerah. Kegiatan ini diadakan dalam rangka Parade Budaya Lokal untuk memeriahkan Peringatan Hari Jadi ke-1109 Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini dimulai pukul 20.00 WIB dan berakhir 23.00 WIB dengan menyajikan penampilan 3 (tiga) kesenian yaitu :

Hari I : Dolalak “Lestari Budaya” - Desa Kaligono Kec. Kaligesing

Hari II : Kuda Kepang “Trisno Budoyo” - Desa Kalirejo Kec. Bagelen

Hari III : Kuda Kepang “Turonggo Mudo” Desa Prigelan Kec. Pituruh

Antusiasme penonton dalam memberikan apresiasi sangat membanggakan, bahkan ketika pementasan Kuda Kepang Trisno Budoyo / malam kedua, hujan turun dengan deras, namun mereka tidak beranjak dan tetap menonton di gazebo yang ada dalam lingkungan TBA. Ketika hujan reda, mereka maju kembali mendekati panggung. Tak kalah ramainya, pada malam terakhir, yaitu malam minggu yang menampilkan Turonggo Mudo. Sehubungan dengan akhir pekan, penonton luar biasa apresiasinya.

Yang patut mendapat acungan jempol, selama kegiatan berlangsung, keadaan penonton selalu tertib. Ini membuktikan bahwa kesenian dapat dinikmati oleh semua kalangan. Untuk masa yang akan datang mestinya Pemerintah Kabupaten Purworejo memberikan wahana apresiasi semacam ini dengan memberikan porsi lebih, agar kesenian lokal dapat bertahan dan berkembang di tengah gempuran seni budaya dari luar negeri. Diharapkan nantinya akan membuat lebih banyak kawula muda dan para warga purworejo umumnya untuk lebih mencintai seni budaya daerah.

Sehingga pengembangan dan nguri-uri seni budaya lokal bukan hanya terhenti sebatas kata-kata. Semoga.

12 Oktober 2010

PARADE BUDAYA LOKAL DALAM RANGKA PERINGATAN HARI JADI KE - 1109 KABUPATEN PURWOREJO, TAHUN 2010

Sebagaimana pada tahun sebelumnya, tahun 2010 ini Kabupaten Purworejo memperingati Hari Jadi. Kegiatan tahun ini mengusung tema : “DENGAN HARI JADI KE- 1109 KABUPATEN PURWOREJO, KITA BANGUN SEMANGAT KEBERSAMAAN, PERSATUAN DAN KESATUAN, GUNA MEWUJUDKAN PURWOREJO YANG SEJAHTERA”.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan antara lain dilaksanakan di tingkat kecamatan (dilaksanakan serempak di 16 Kecamatan) pada hari Senin, 4 Oktober 2010 Pukul 20.00 sd. selesai dengan mengambil tempat di Kantor kecamatan / salah satu desa di masing-masing kecamatan. Di malam tersebut diselenggarakan acara Tasyakuran dan Gelar Kesenian Tradisional. Dalam kegiatan ini setiap kecamatan menyelenggarakan tasyakuran dan mementaskan kesenian lokal yang ada di masing-masing kecamatan.

Sedangkan di tingkat Kabupaten dilaksanakan 3 (tiga) kegiatan dalam sehari yaitu pada hari Selasa, 5 Oktober 2010, yaitu :

1. Di Gedung DPRD pada pukul 10.00 sd. 12.00 WIB dilaksanakan Sidang Paripurna DPRD.

2. Altar Kayu Ara Hiwang Desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip pukul 14.00 sd. 15.45 WIB diadakan acara Prosesi Mengenang Kembali Bumi Kayu Ara Hiwang menjadi Shima.

3. Pendopo Kabupaten Purworejo pada 19.30 sd. 22.00 WIB diadakan Malam Resepsi Hari Jadi ke 1109 Kabupaten Purworejo Tahun 2010.

Kegiatan pendukung lainnya diantaranya Pementasan Kesenian Rakyat yang dilaksanakan pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu tanggal 7, 8, 9 Oktober 2010 mengambil tempat di Taman Bermain Anak / TBA mulai pukul 20.00 s/d. 23.00 WIB dengan menghadirkan 3 grup kesenian lokal yaitu : 1). Dolalak “Lestari Budaya” - Desa Kaligono Kec. Kaligesing, 2). Kuda Kepang “Trisno Budoyo” - Desa Kalirejo Kec. Bagelen dan 3). Kuda Kepang “Turonggo Mudo” Desa Prigelan Kec. Pituruh.

Tak kalah meriahnya, akan diadakan pula Festival Kesenian yang rencana diikuti 16 (enam belas) grup dari 16 kecamatan se-Kabupaten Purworejo. Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 16 Oktober 2010 bertempat Taman Bermain Anak / TBA mulai pukul 15.00 s/d. 23.00 WIB.

Selain kegiatan diatas, terdapat Parade Band dan Lomba Olah Raga. serta Pawai Budaya Pelajar.

Semoga semarak Hari Jadi tahun ini memberikan nilai positif dalam membentuk dan memperkuat karakter daerah, terutama melalui sarana seni dan budaya.