07 Februari 2012

STASIUN PURWOREJO

Purworejo pada masa kolonial memiliki nilai strategis dimata Pemerintah Hindia Belanda. Salah satunya buktinya adalah pembuatan jalur kereta api, dan peninggalan yang menjadi saksi bisu kejayaan kereta api di Purworejo adalah Stasiun Kereta Api Purworejo yang berada di Jalan Mayjend. Sutoyo, dan masuk wilayah Kecamatan Purworejo, Jawa Tengah. Stasiun Purworejo sendiri dalam periode 1910, memiliki struktur bangunan berupa material batu bata setinggi 8 m dan luas keseluruhan sekitar 848 m2.
Stasiun ini dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Negara bernama Staats Spoorwegen (SS). Pemerintah Kolonial Belanda saat itu sengaja membangun rel kereta api sepanjang 12 km dari Stasiun Besar Kutoarjo ke arah Purworejo, awalnya hanya dibangun rel saja namun seiring perkembangannya yang semakin ramai, pada tanggal 20 Juli 1887, Stasiun Purworejo dibuka dan di aktifkan. Sejak tahun 1901 jalur kereta api Purworejo-Kutoarjo itu pun semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kala itu. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Jateng telah memasukkan Stasiun Purworejo sebagai salah satu cagar budaya di Purworejo, dilindungi oleh negara dengan nomor Inventarisasi : 11-06/PWO/TB/36.
Stasiun Purworejo saat ini dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia ( Persero) & berada di Daerah Operasi 5 Purwokerto.

Terdapat beberapa halte antara Stasiun Kutoarjo dan Stasiun Purworejo, yaitu dimulai dari Stasiun Kutoarjo – Halte Batoh – Halte Grantung – Halte Kenteng – Stasiun Purworejo, saat ini keseluruhan halte sudah tidak diaktifkan lagi.
Stasiun Purworejo berada pada ketinggian +63m dpl. Sistem persinyalan masih memakai sistem sinyal mekanik Alkmar,dan uniknya tidak ada sinyal muka ataupun sinyal masuk,hanya ada sinyal keluar menuju arah Stasiun Kutoarjo. Di Stasiun ini juga mempunyai 2 Spoor,yang dahulunya mempunyai 1 spoor cabang menuju ke Balai Yasa (Werkplaants) milik Staats Spoorwegen (SS).

Balai Yasa tersebut sekarang udah tidak ada lagi dan sudah berubah fungsi sebagai pemukiman bagi Prajurit TNI AD.
Stasiun Purworejo sempat ditutup selama 3 kali, yaitu pada masa kependudukan tentara Jepang, dan sekitar tahun 1952-1955. Saat peralihan menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) petak jalur tersebut kembali diaktifkan. Setelah itu pada tahun 1977, petak jalur Kutoarjo – Purworejo kembali ditutup dan tidak beroperasi lagi. Dekade 1990-an diaktifkan kembali pada masa kepemimpinan Bupati Purworejo, Goernito dan Haryanto Dhanutirto, Menteri Perhubungan saat itu.
Saat ini jalur kereta api antara Stasiun Kutoarjo – Stasiun Purworejo sedang tidak aktif,dikarenakan beberapa hal diantaranya :
- Rel yang tidak layak (masih memakai R25)
- Bantalan rel tidak layak
- Tidak ada kricak
- Struktur jalan tidak sesuai dengan berat/tonase kereta apjalur ini untuk dilalui
Revitalisasi jalur Kutoarjo – Purworejo direncanakan dimulai setelah menunggu selesainya pekerjaan pergantian rel di jalur Butuh – Kutoarjo, untuk digunakan di jalur Kutoarjo – Purworejo.

Sarana yang melayani lintas Kutoarjo - Purworejo ini pada jaman dahulu dilayani dengan lokomotif uap dengan membawa rangkaian campuran antara kereta penumpang dan kereta barang, dengan susunan sebagai berikut lokomotif uap – Kereta Kayu CR – Kereta Kayu CR – Gerbong Barang GW – Gerbong Barang GW.
Untuk lokomotif uap, jalur ini dilayani dengan seri C dan D,diantaranya seri C 27 (dengan susuran roda 4-6-4) buatan Pabrik Werkspoor pada tahun 1920 dan seri D 51 (dengan susunan roda 2-8-2) buatan Pabrik Hartmann pada tahun 1920.
Pada periode 1990, setelah jalur ini diaktifkan kembali oleh pemerintah saat itu, sarana yang melintas di jalur ini tidaklah dilayani kembali dengan lokomotif uap dan kereta kayu CR dan kereta barang GW, tetapi sudah berganti dilayani dengan lokomotif diesel hidrolik dan dengan membawa 1 atau 2 kereta penumpang kelas 3 atau biasa disebut K3 dengan susunan Lokomotif Diesel Hidrolik D 301/D 300 – K3.
Lokomotif yang melayani jalur ini ialah seri D 300 (Krupp M350D) dan seri D 301 (Krupp M350D),kedua lokomotif tersebut buatan Pabrik Fried Krupp dan mulai dinas pada tahun 1962-1968 (D 301) dan tahun 1968 (D 300).
Mulai Periode tahun 2000,lokomotif yang melayani jalur ini berganti dari lokomotif D 300 & D 301 ke lokomotif BB 300 (Krupp M700BB),lokomotif ini (BB 300) mempunyai tenaga lebih besar dari lokomotif D 301 dan juga lokomotif tersebut masih 1 pabrik,yaitu Fried Krupp.
Lokomotif BB 300 yang melayani jalur Kutoarjo – Purworejo ini merupakan lokomotif diesel hidrolik pertama buatan pabrik Fried Krupp Jerman,yang pertama kali didinaskan pada tahun 1958 sebanyak 17 buah dan pada tahun 1959 sebanyak 13 buah.Lokomotif dengan daya mesin 680 HP dari Mercedes Benz dan transmisi hidrolik dari Krupp ini,dapat dioperasikan untuk dinas langsir atau menarik kereta penumpang jarak pendek seperti feeder Purworejo ini,dan dengan kecepatan maksimum 75 Km/jam.Lokomotif ini juga merupakan lokomotif ber type BB atau Bo-Bo yang artinya lokomotif yang mempunyai dua bogie dan masing-masing bogie mempunyai dua poros penggerak yang digerakkan oleh motor sendiri.
BB 300 06 dan BB 300 16 ialah lokomotif yang sering melayani Kereta Feeder Kutoarjo – Purworejo,lokomotif ini berasal dari Dipo Induk Kutoarjo (Dipo KTA) dan yang unik dari lokomotif ini ialah livery nya yang kembali dicat dengan masa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yaitu dengan livery kuning hijau dan dengan logo roda terbang khas lokomotif masa PJKA.

Sumber : Informasi tertulis dari Kantor Stasiun Purworejo

26 Desember 2011

PROSESI GUYANG JARAN (Desa Karangrejo, Kec. Loano)

Prosesi Guyang Jaran memiliki arti sebagai berikut. Dalam bahasa Jawa, Guyang = Memandikan, sedangkan Jaran = Kuda. Jika dilihat dalam konteks yang dimandikan adalah kuda kepang, maka arti lengkapnya adalah : Memandikan kuda kepang. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Grup Kesenian Kuda Kepang “Turonggo Seto” bersama warga masyarakat lainnya secara rutin setiap tahun sekali. Waktu pelaksanaannya adalah tepat dalam bulan Sura (bulan pertama dalam kalender Jawa). Lazimnya dilaksanakan setelah tanggal 10 Sura. Untuk tanggalnya tidak ditentukan, namun biasanya para sesepuh desa mendapatkan wisik / pesan ghaib dari para leluhur desa, kapan pelaksanaan kegiatan ini harus dilaksanakan.
Adapun maksud dari kegiatan ini adalah Pertama, sebagai wujud rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas keberlangsungan dan keselamatan kegiatan kesenian kuda kepang dan kehidupan masyarakat yang harmonis selama ini. Kedua, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar grup kesenian dan masyarakat desa selalu mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, kedamaian dan ketentraman, dan desa mereka dapat terwujud sebagai desa yang gemah ripah loh jinawi. Ketiga, untuk “membersihkan” kelompok kesenian ini dari hal-hal tidak baik yang telah ditemui dalam setiap pementasan maupun keseharian selama satu tahun yang lalu. Pembersihan ini ditandai dengan mencuci semua kuda kepang yang dimiliki oleh grup tersebut di sungai.
Adapun urutan kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Ziarah ke makam para leluhur desa.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh para tokoh masyarakat, menuju kompleks makam desa yang terletak di puncak bukit. Dengan membawa uba rampé / kelengkapan, seperti bunga. Para tokoh masyarakat ini mengadakan ziarah dan berdoa di makam para leluhur.  Makam leluhur yang dituju adalah makam dari Pangeran Dipokusumo / Imam Muhammad dan makam para nayaka praja (pejabat) Nagari Purworejo (sebutan dalam bahasa Jawa terhadap Kabupaten Purworejo pada jaman Hindia Belanda) yang dikebumikan di desa setempat.
2.  Guyang Jaran
Prosesi pertama ini ditandai dengan dikeluarkannya kuda kepang dari “Kandang Jaran”. Kandang = tempat tinggal binatang, Jaran = kuda. Kandang disini adalah istilah / kata lain dari rumah warga yang dijadikan tempat penyimpanan kuda kepang. Dari rumah / kandang jaran tersebut kuda kepang diarak dengan diiringi tetabuhan menuju ke pinggir sungai yang mengaliri desa yaitu sungai Bogowonto dan sungai Gading. Pada pertemuan antara 2 (dua) aliran sungai inilah nanti kegiatan Guyang Jaran akan dilaksanakan.
Pada waktu yang telah ditentukan, para pengrawit (penabuh gamelan) dan penari akan melaksanakan tarian di tempuran sungai tersebut dengan menceburkan kuda kepang ke dalam air.
Para penari yang ikut dalam prosesi ini adalah yang telah berusia lanjut / tua, dikarenakan yang disajikan dalam prosesi ini adalah tarian kuno / tradisi. Karena menurut kepercayaan setempat, pementasan kuda kepang harus didahului dengan tarian yang tradisi, setelah itu baru diperbolehkan tarian yang sudah mendapat sentuhan gerak modern.
Para penari kelompok kuda kepang dalam prosesi ini mempergunakan pakaian serba hitam.
3.  Wilujèngan
Wilujèngan / selamatan merupakan kegiatan kenduri dengan menghadirkan seluruh anggota kelompok kuda kepang dan masyarakat. Dilaksanakan pada malam hari setelah kegiatan Guyang Jaran. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan dengan mengambil tempat di Balai Desa. Sajian yang dikendurikan adalah makanan khas desa setempat, bahkan makan bersama dilaksanakan dengan menggunakan pincuk /daun pisang yang dibentuk menyerupai piring.
4.  Pentas
Prosesi terakhir adalah pentas. Pentas ini merupakan pergelaran yang dilakukan oleh seluruh pemain dan pengrawit terdiri dari 3 (tiga) generasi. Mereka terdiri dari : generasi anak-anak, pemuda, dan orang tua.  Masing-masing menari dengan waktu yang bergantian. Ini menunjukkan atau sebagai wujud dari :  Pertama, kebersamaan baik dalam grup kesenian itu sendiri maupun antar grup kesenian dan masyarakat. Karena pementasan ini ditonton atau dinikmati oleh masyarakat luas. Kedua, terjadi proses regenerasi dalam grup atau kesenian kuda kepang di desa setempat, merupakan bentuk nyata upaya dari para sesepuh / orang tua dalam meneruskan atau melanggengkan kesenian ini. Kegiatan ini dilaksanakan di tanah lapang, dengan durasi lama.