16 Maret 2015

SEJARAH HKS (HOOGERE KWEEKSCHOOL) PURWOREJO



Sejarah HKS yang ada di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan sejarah negeri Belanda. Yang pada waktu tersebut diduduki Perancis dan “mendapatkan” pengalihan kekuasaan dari VOC atas Hindia Belanda serta mendapatkan pengalihan dari Inggris. Berlanjut pada babak belurnya ekonomi Belanda dalam menghadapi Perang Diponegoro / Perang Jawa. Untuk memperbaiki ekonominya, Belanda menjalankan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) di Hindia Belanda. Cultuurstelsel tidak memberikan kesempatan kepada pribumi untuk berpikir maju dan berkembang, karena pembatasan sekolah-sekolah/ pendidikan bagi mereka. Nama-nama seperti Douwes Dekker dan Van Deventer menyuarakan lantang bagi perbaikan / balas budi terhadap para warga tanah Hindia Belanda.  
Saat itu hanya ada Sekolah kelas II untuk rakyat umum dan Sekolah Dasar Kelas I untuk anak pegawai negeri. Dengan adanya pembukaan perkebunan swasta di Hindia Belanda  banyak orang Belanda yang datang ke Hindia Belanda untuk mengelola perkebunan. Hal ini diikuti dengan perbaikan jalan, moda transportasi kereta api dan pelabuhan. Tentu saja, pendidikan mulai digalakkan. Lebih murah mendidik warga pribumi daripada membawa orang terdidik dari negeri Belanda. Saat itu juga terjadi peralihan teknologi dari barat ke Hindia Belanda. Pabrik-pabrik dijalankan dengan mesin “modern” yang didatangkan dari barat. 

Sekolah-sekolah dasar dengan bahasa pengantar Belanda didirikan. Didirikan pula sekolah menengah (MULO), AMS dan macam-macam sekolah kejuruan (Sekolah Teknik Menengah, Sekolah Pertanian, Sekolah Pelayaran, Sekolah Kedokteran, Sekolah Kepolisian, Sekolah Guru, Sekolah Pemerintahan dll). Tahun 1917 sekolah kelas I dirubah menjadi HIS (Hollands Inlandsche School) disamping adanya Eurepese Lagere School. HIS diadakan di ibukota kawedanan atau kabupaten.

Untuk mengajar sekolah-sekolah tersebut maka diperlukan pendidik/ guru. Untuk mendidik calon guru yang mampu mengajar bahasa Belanda, maka pada tahun 1914 didirikanlah di Purworejo,  Hoogere Kweekschool (HKS), lebih tinggi dari Kweekschool (Sekolah Guru). Muridnya dipilih dari MULO atau dari Kweekschool.  Selama 3 (tiga) tahun murid murid HKS digembleng dengan bahas Belanda dengan mendapatkan pelajaran ilmu mendidik, ilmu pengetahuan umum dan harus tinggal dalam asrama dengan pengawasan ketat. Murid-murid ini berasal dari berbagai macam suku dan dihimpun dalam satu perkumpulan bernama De Broederschap. Jika Belanda memecah belah suku bangsa di Hindia Belanda, namun di HKS mereka malah berhimpun.

Pada akhirnya, para lulusan HKS banyak yang mengajar di HIS dan Schakelschool, dalam bahasa Belanda. 
HKS Purworejo diresmikan pada 19 Oktober 1914 dan ditutup pada tahun 1930. Ketika ditutup para murid kelas III dipindahkan ke HKS Bandung dengan diampu oleh Tuan Van Otterloo (kelak dia menjadi Direktur HKS Bandung menggantikan Meneer Van der Laan yang pulang pensiun ke Den Haag pada tahun 1930), sementara murid kelas II dipindahkan ke HKS Magelang. (Catatan : pada saat itu hanya ada 3 (tiga) HKS yaitu di Purworejo, Bandung dan Magelang). Pada bulan Juli 1931 HKS Bandung di tutup. Murid kelas III dipindahkan ke HKS Magelang. Di Magelang berkumpul siswa kelas III dari HKS Purworejo dan Bandung selain dari Magelang sendiri. Akhirnya HKS Magelang ditutup pada tahun 1932.

05 Desember 2014

AHMAD YANI PAHLAWAN DARI PURWOREJO #1


Ahmad Yani masih berpangkat Kolonel, 1958
Desa Rendeng (membaca huruf “e”-nya seperti “e” pada kata “pare”) Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo, menyimpan sejuta kisah tentang Ahmad Yani. Salah satu Pahlawan Revolusi. Di desa yang terletak kurang lebih 7 kilometer dari pusat kota Purworejo inilah kedua orang tua beliau tinggal.  Nama ayahnya adalah Sardjo dengan nama tua Wongsoredjo kadang dipanggil dengan nama  Wongso atau Wongso Rendeng atau (para putra/ putri pak Yani memanggilnya dengan nama) Mbah Rendeng.   Ibu beliau bernama Murtini.    
Keluarga Wongsoredjo  dahulu mengabdikan diri pada keluarga Meneer Bos, salah seorang adminstratur pabrik gula di desa Jenar (sekarang masuk wilayah administrasi Kecamatan Purwodadi Kab. Purworejo).  Desa Jenar kurang lebih 20 kilometer jaraknya dari desa Rendeng.   Di perumahan pabrik gula yang berada di desa Jenar inilah Ahmad Yani lahir, pada 19 Juni 1922.  Beliau memiliki adik bernama Asmi dan Asinah.  (Untuk membaca sejarah pabrik gula di Jenar silahkan klik disini).
Bp. Wongsoredjo
Pada tahun 1927 keluarga pak Wongsoredjo pindah ke Batavia dan bekerja pada Jenderal Belanda bernama Halfstein. Pada masa inilah Yani kecil mulai sekolah Freobel (Taman Kanak Kanak). Ketika keluarga Halfstein ini pindah ke Belanda, pak Wongsoredjo pindah ke Ciawi, Bogor ikut keluarga yang masih bersaudara dengan Halfstein. Pada 1929 pak Yani masuk HIS (setingkat SD). Ketika menyelesaikan MULO (setingkat SMP) pak Yani meneruskan sekolah di AMS. Diteruskan sekolah Topografi di Malang selama 6 (enam) bulan, dan sekeluarnya dari sana menjadi Topografische Dienst dengan gaji 120 gulden. Dan ketika tahun 1942 Belanda menyerah kepada Jepang, bersama itulah keluarga pak Wongsoredjo bersama pak Yani pulang ke Rendeng.   
Ibu Murtini
Pada masa Jepang masuk Indonesia, pak Yani masuk sebagai tentara Pembela Tanah Air / PETA, dan ditempatkan di Prembun. Di kesatuan PETA, untuk dapat menjadi menjadi Sho Dan Co, salah satu syaratnya adalah dapat mengetik. Kemudian beliau ikut kursus mengetik di Purworejo. Kursus “ARTI’ yang salah satu gurunya adalah bernama Yayuk Ruliah Sutodiwirjo, seorang gadis yang kelak menjadi istrinya.  

Bersambung…

Sumber :
1. Buku AHMAD YANI : sebuah kenang kenangan oleh Ibu Yani – Jayakarta Agung Offset 1984.
2. Buku Profil Seorang Prajurit oleh Amelia Yani – Pustaka Sinar Harapan 1988

07 November 2014

GEDUNG SMPN 2 (DULU : EUREPESE LAGERE SCHOOL/ ELS)

Gedung Europese Lagere School tahun 1930-an
Bangunan didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1917 sebagai ELS (Europese Lagere School) yaitu diperuntukkan anak-anak Eropa yang mengikuti orang tuanya tinggal di Purworejo. Bangunan tersebut terdiri dari tujuh ruang belajar, sebuah bangsal olahraga, serambi panjang menuju KM/WC dan gudang.
Bangunan  ini terletak ditengah, sedangkan disebelah utara terdapat bangunan baru bertingkat.
Sejak 17 Agustus 1946 diresmikan oleh Bupati Purworejo R. Moeritno Reksonegoro dipakai sebagai Sekolah Kabupaten.
Tanggal 21 Juli 1947 sekolah ditutup dan alat-alat penting diungsikan disebabkan terjadi clash pertama dan tanggal 1 September 1947 dirubah menjadi SMP Negeri 2 Purworejo sampai sekarang.

Sumber : Bidang Kebudayaan Dinas Dikbudpora Kab. Purworejo 

GEDUNG SMP N 1 (DULU HOLLANDS INDISCHE SCHOOL/ HIS)



Gedung HIS tahun 1934-an
Selesai dibangun pada tanggal 27 Juli 1934 yang dipakai untuk HIS (Hollands Indische School) sampai tahun 1947. Setelah itu dipakai oleh SMP Negeri 1 sampai sekarang.
Bangunan sekolah terdiri dari bangunan induk dan bangunan penunjang. Bangunan asli Adalah bangunan induk yang terdiri dari 8 ruang kelas, ruang BP, 1 ruang aula, kamar mandi dan WC.
Disamping bangunan tersebut dipakai sebagai sekolah, aula tersebut juga dipergunakan sebagai tempat hiburan siswa HIS.

Sumber : Bidang Kebudayaan Dinas Dikbudpora Kab. Purworejo