22 Juni 2011

PABRIK GULA DI JENAR

Bagi siapa saja yang pernah membaca riwayat hidup/biografi Jendral Achmad Yani akan mengetahui bahwa Pahlawan Revolusi itu dilahirkan oleh keluarga Bpk. Wongsoredjo dan Ibu Murtini pada tanggal 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo. Pada waktu itu Bpk Wongsoredjo bekerja sebagai sopir Meneer/Tuan Boss, salah satu pimpinan Pabrik Gula Jenar Purworejo dan Pak Yani dilahirkan di perumahan di lingkungan Pabrik tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud membahas riwayat hidup Pak Yani yang sudah banyak ditulis dan kita ketahui bersama, namun akan “bercerita” tentang tempat dimana beliau dilahirkan, yaitu PABRIK GULA JENAR.

Pabrik Gula Jenar Selesai Dibangun dan Mulai Beroperasi tahun 1910
Berdasarkan sumber tertulis Belanda, pabrik gula Jenar itu dibangun pada tahun 1909 oleh N.V.Suikeronderneming “Poerworedjo”, sebuah perusahaan terbuka (PT) yang dibentuk pada tahun 1908 di Amsterdam dengan tujuan untuk mengusahakan sebuah pabrik gula di Purworejo dengan modal 5 juta gulden yang terbagai dalam saham masing2 lembar senilai 1000 gulden. Nampaknya pada waktu itu orang Belanda berlomba lomba untuk mendirikan pabrik gula di Jawa sehubungan dengan adanya fasilitas berdasar Undang-Undang Agraria tahun 1870 dan juga mengingat kebutuhan gula di dunia sangat meningkat, sehingga menjelang akhir 1920 jumlah pabrik gula di Jawa ada sekitar 180 buah. Indonesia (Jawa) menjadi salah satu pengeskpor gula terbesar di dunia bersama dengan Kuba.

Untuk membangun “Suikerfabriek Poerworedjo” itu dipilih lokasinya di desa Plandi termasuk kecamatan Purwodadi, yang terletak kira2 di Km. 8 jalan Purworejo- Jogya di sebelah kanan jalan, masuk sekitar kurang 1 km dari jalan besar. Mengapa kemudian terkenal dengan nama pabrik gula Jenar, mungkin karena nama Jenar lebih “populer” dari Plandi bahkan dengan Purwodadi yang waktu itu merupakan salah satu Kawedanan (Distrik) dari Kabupaten Purworejo, dimana Jenar masuk dalam wilayahnya. Itu dugaan saya.Yang jelas pada tahun 1909 pabrik mulai dibangun dengan giatnya dan menjelang akhir tahun 1910 pabrik gula sudah siap dan mulai berproduksi.

Pembangunan pabrik gula ini nampaknya secara fisik telah mengubah wajah daerah Jenar dan Purwodadi. Hampir sebagian besar daerah Kawedanan Purwodadi (dulu) termasuk asistenan/kecamatan di lingkungannya, khususnya kecamatan Purwodadi dan Ngombol, menjadi lahan untuk tanaman tebu sebagai bahan pokok untuk pabrik gula. Daerah Purworejo selatan memang terkenal sebagai daerah persawahan yang cukup luas untuk maksud itu, dan itulah barangkali mengapa lokasi pabrik dipilih disitu.Untuk keperluan tersebut Perusahaan mendapat ijin menyewa tanah (paksa) dari pemilik/penggarap berdasar ketentuan Undang-undang Agraria tahun 1870 tersebut, dan memang Undang2 inilah yang merupakan dasar bagi berkembang-pesatnya pabrik gula di Jawa. Kurang jelas bagi saya apakah seluruh daerah persawahan di daerah selatan pabrik menjadi area tanaman tebu, namun yang jelas area itu cukup luas mengingat kebutuhan bahan baku tebu bagi produksi gula.

Untuk mengangkut hasil tebu dari area yang tersebar luas itu,disamping menggunakan sarana tranportasi tradisional seperti “grobag sapi racuk” lewat jalan2 yang ada, dibangunlah satu jaringan rel kereta-api kecil atau lori sesuai dengan kebutuhan dan menjangkau seluruh area tanaman tebu. Sisa-sisa jaringan itu sampai akhir2 ini (tahun ‘60-an) masih terlihat dibeberapa area persawahan sebagaimana disebut diatas. Dari cerita saksi mata dikatakan bahwa dari Pabrik, rel utama memanjang kearah Purwodadi , sebagaian terus kedaerah Bubutan sepanjang kali Bogowonto dan sekitarnya, dan sebagian belok kekanan terus ke-area tanaman tebu kedaerah Ngombol, Ngangkruk ketip, Wingko, Wunut dan sekitarnya. Sayang data otentik untuk ini tidak ada. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa area tanaman tebu itu pasti cukup luas untuk menjamin “berputar”nya gilingan pabrik gula yang menguntungkan.

Selama berproduksi, pabrik gula Jenar memberikan sumbangan kepada total produksi gula sebanyak 3 juta ton per tahun yang dihasilkan oleh 180 pabrik gula di Jawa, sebagian besar untuk tujuan ekspor. Keuntungan bersih yang diraup oleh pabrik gula Jenar pada tahun 1916 (sebagai contoh) sebesar 51 ribu gulden. Untuk menggambarkan nilai uang sebesar itu harus dibandingkan dengan pendapatan buruh-tani yang saya ketahui ditahun-tahun ‘30-an, sebesar 14 sen sehari dan harga nasi rames satu sen sebungkus/sepincuk. Gaji seorang nDoro Mantri Guru sekolah Vervolkschool (Ongko Loro) sebesar 60-70 gulden/bulan. Gaji sebesar itu sudah cukup untuk hidup “sangat” mewah bagi ukuran desa. Saya sendiri hanya dapat “jatah” dari ibu saya sepuluh sen bila Lebaran datang, dan dari pengumpulan keliling “cari sangu” ada tambahan sekitar 5-6 sen, sudah merasa sebagai orang “kaya”, bisa jajan, beli mainan dan plesir kemana-mana.

Bagaimana pengaruh keberadaan pabrik gula Jenar bagi kesejahteraan masyarakat Bagelen waktu itu? Sebuah studi mengenai hal itu menyatakan bahwa masuknya modal dan kegiatan usaha perkebunan di daerah Bagelen/Purworejo termasuk keberadaan pabrik tersebut hampir tidak berdampak positif secara sosial dan ekonomi. Keuntungan yang berlimpah hanya dinikmati oleh pemilik modal dan “pengusaha antara” yang umumnya di monopoli oleh golongan etnis Cina, sedang penduduk/masyarakat hanyalah sebagai “penonton” yang pasif.

Kejayaan pabrik gula tiba-tiba tersungkur dengan datangnya krisis ekonomi dunia bulan Oktober tahun 1929 yang terkenal dengan depresi besar tahun 1929, dipicu dengan ambruknya Bursa Saham (stock market crash) Wallstreet di New York yang kemudian menjalar keseluruh dunia. Di Eropa “the Great Depression” itu dikenal sebagai “Malaise” dan ke Indonesia di plesetkan sebagai “jaman Meleset” yang berimbas dengan berbagai kesulitan hidup. Sejalan dengan krisis tersebut, permintaan dunia untuk gula anjlog sementara suplai tetap membanjir. Kenyataan itu memaksa diadakan sistem quota yang membatasi produksi gula, yang terkenal dengan perjanjian Charbourne tahun 1931. Indonesia (Jawa) harus menurunkan produksi dari semula 3 juta ton menjadi hanya 1.4 juta ton ( pengurangan lebih dari 50%), akibatnya 9 dari 17 pabrik gula di daerah Jogya “tersungkur” dan tutup.

Nampaknya pabrik gula Jenar tidak bisa menghindar dari kenyataan tersebut dan harus menerima nasib yang sama, tidak bisa bertahan. Tahun 1932 mulai “meregang nyawa” dan akhirnya tahun 1933 tidak ada pilihan lain, bangkrut dan di liquidasi alias bubar… Selesailah sudah episode tentang sebuah pabrik gula Jenar di daerah Purworejo. Ternyata sebuah perusahaan itu tidak ada bedanya dengan kehidupan manusia, dia lahir, tumbuh, berkembang dan mati/menghilang. Seperti halnya umur manusia, nasibnya juga berbeda-beda, ada yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang.

Dalam hal pabrik gula Jenar, usianya tidak lebih dari 24 tahun sejak didirikan/dilahirkan tahun 1909, terhitung usia yang pendek. Beberapa pabrik gula yang dibangun sebelum pabrik gula Jenar bahkan masih bisa bertahan sampai saat ini.

Sekarang ini, lebih 100 tahun sejak didirikan dan hampir 80 tahun sejak bubar, nyaris tidak ada lagi kenangan yang tersisa dari keberadaan sebuah pabrik gula Jenar. Di lokasi bekas pabrik hanya tersisa reruntuhan yang tidak memberikan kesan bahwa disitu dulu pernah ada bangunan2 yang besar didaerah Purworejo. Di desa Pulutan, kecamatan Ngombol, masih ada jembatan desa yang tersisa yang dibangun oleh “SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925”, itulah salah satu monumen/bukti bagi kita tentang adanya sebuah pabrik gula di Jenar. Selebihnya, generasi sekarang hanya mengenal nama pabrik gula Jenar pada waktu mempelajari riwayat hidup Pahlawan Revolusi Jendral Achmad Yani yang memang lahir di tempat itu.

*) Foto-foto koleksi Tropenmuseum (KIT)

sumber dan upload atas seijin dari :
Slamet Wiyadi, dalam http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/

catatan : tanpa mengurangi isi, beberapa kalimat kami sesuaikan.

16 Juni 2011

ANTARA BAGELEN (PURWOREJO) DAN BAGELEN (KAB. PESAWARAN, LAMPUNG)


BAGELEN, Daerah Kolonisasi (sekarang disebut Transmigrasi) Pertama di Indonesia

Sejarah panjang transmigrasi di Indonesia dimulai pada masa pendudukan pemerintah kolonial Belanda yang awalnya dikenal dengan istilah kolonisasi. Program tersebut merupakan bagian dari politik etis (etische politiek) yang dicanangkan Gubernur Jenderal Van de Venter, yakni politik balas budi pada rakyat Indonesia yang garis besarnya meliputi program irigasi, edukasi, dan kolonisasi.

TAKTIS. Itulah ungkapan yang tepat untuk strategi yang digunakan pemerintah Belanda ketika melancarkan ekspansinya ke luar Jawa. Upaya mereka untuk memperluas wilayah perkebunan di luar Jawa, dibangun dengan pendekatan sosiologis dan antropologis yang amat akurat.

SEBELUM Pemerintah Kolonial Belanda datang, mereka lebih dahulu mengirim para ahli sosiologi dan antropologi terkemuka, Snouck Hurgronje (1857-1936), untuk melihat dan memahami budaya dan perilaku masyarakat setempat.

Hal itu juga dilakukan Belanda ketika hadir di Lampung. Mereka mengadaptasi sistem pemerintahan lokal untuk mengontrol kawasan yang kaya hasil bumi itu.

Pemerintah Kolonial Belanda saat itu tetap menghidupkan pola pemerintahan lokal yang berbentuk kepasirahan atau komunitas masyarakat adat.

Sistem itu memberi keleluasaan pada Belanda untuk mengontrol masyarakat. Bahkan, Belanda saat itu membiarkan kepasirahan menggunakan tata hukum lokal untuk menangani kasus-kasus tertentu.

Penetapan kepasirahan yang dilakukan pada tahun 1920 hingga 1928, disertai dengan penetapan dan pembagian wilayah riil pada marga-marga yang ada dalam kepasirahan itu. Pada tahun 1928, pemerintah Hindia Belanda mengatur kembali struktur masyarakat hukum adat yang berbentuk marga.

Pengaturan itu tertuang dalam Marga Regering Voor de Lampungche Districten. Dengan pengaturan itu, di Lampung terdapat 83 marga. Sebanyak 78 dari 83 marga itu merupakan marga mayoritas penduduk asli Lampung.

Penegasan administratif itu menjadi dasar penyelesaian konflik tanah pada masa itu. Batas-batas wilayah menjadi tanggung jawab masing-masing marga. "Semua persoalan yang berkaitan dengan tanah saat diselesaikan mengacu pada ketentuan itu,"

Meskipun demikian, kemunculan kepasirahan itu tidak meminggirkan kontrol Belanda terhadap perilaku warga. Kepemimpinan lokal dan modernisasi administrasi hukum lokal menjadi tanggung jawab pasirah (kepala marga). Namun, kasus-kasus yang berkaitan dengan kriminalitas dan keamanan lokal menjadi wewenang Pemerintah Belanda.

Cara Belanda untuk menguasai Lampung terbukti berhasil. Bahkan, taktik tidak mengubah susunan struktural masyarakat adat yang telah ada, memberi keleluasaan bagi Belanda untuk mengelola wilayah itu.

Dengan pendekatan demikian, Belanda mampu menguasai kawasan yang membentang dari Bakauheni di ujung Pulau Sumatera hingga Liwa, Blambangan Umpu, dan Mesuji yang merupakan wilayah yang berbatasan dengan Sumatera Selatan saat ini.

Selain mengadopsi sistem lokal dalam tata pemerintahan administratif, penggunaan strategi infrastruktur yang dilakukan Belanda pun terbukti akurat. Misalnya, pembukaan wilayah-wilayah pedalaman Lampung dengan kereta api, membuat Belanda menguasai betul jalur perdagangan lada yang merupakan komoditas utama masa itu.

Jaringan jalan utama dan irigasi teknis masa itu dibangun untuk memberi akses yang lebih bagi Belanda untuk mengeksploitasi kekayaan alam Lampung. Bahkan, untuk menggenjot laju perkembangan hasil bumi waktu Belanda melancarkan kolonisasi di Lampung. Itu mengulang sukses Belanda dalam pengelolaan lahan perkebunan di Deli Serdang dan Medan, Sumatera Utara. Antara tahun 1905 dan 1942 Belanda mendatangkan ribuan warga dari Jawa untuk bekerja di ladang-ladang kopi, tebu, dan persawahan.

Kolonisasi Desa Bagelen

Program kolonisasi pertama berlangsung pada tahun 1905. Saat itu, kafilah generasi pertama adalah Almarhum Bapak Kartoredjo, cikal bakal kolonisasi desa Bagelen angkatan 1905, melalui anaknya yaitu Bapak Sudarmo (majalah dewi 1980) menjelaskan bahwa rombongan kolonis dari jawa diangkut dengan kapal laut merapat di pelabuhan Teluk Betung.

Rombongan kolonis angkatan almarhum Bapak Kartoredjo, setelah sampai di pelabuhan Teluk Betung, selanjutnya berjalan kaki menuju Gedong Tataan selama tiga hari. Barang-barang bawaan dari Jawa dipikul, bila lelah rombongan tersebut istirahat. Daerah yang dituju yaitu Gedongtataan masih berupa hutan belukar, demikian cerita yang lahir di desa Bagelen Gedongtataan pada tahun 1910. Almarhum Sudarmo juga menjelaskan (Lampost 24/08/78) bahwa rombongan kolonisasi angkatan almarhum Kartoredjo sebanyak 43 orang, 3 diantaranya adalah wanita untuk tugas khusus masak memasak. Sementara itu, mbah Dono Pawiro (Kolonis angkatan 1908) juga bercerita (majalah Dewi, 1980) betapa sulitnya menerobos hutan. Saat itu ia masih anak-anak dan mengaku belum dikhitan. Rombongan orang dari desa Bagelen Purworejo Jawa Tengah itu menurut almarhum mbah Dono Pawiro berjumlah ratusan orang.

Kedatangan para kolonisasi dari daerah Bagelen Purworejo Jawa Tengah ke Gedongtataan tidak terjadi sekaligus, akan tetapi rombongan tersebut datang secara berangsur-angsur seiring dengan kesiapan penyiapan lahan yang dilakukan oleh rombongan pendahulunya.

Secara umum rombongan dari Jawa yang datang ke Gedongtataan dibagi 5 tahap, yaitu pada tahun 1905 (angkatan pertama) pada tahun 1906, 1907, 1908, dan tahun 1909. Hal ini berarti kedatangan rombongan tersebut direncanakan oleh Pemerintah Hindia Belanda selama 5 tahun berturut-turut.

Selanjutnya, pada tahun 1910, Pemerintah Hindia Belanda menyerahkan tanah-tanah desa Bagelen Gedongtataan pada rakyat desa untuk 537 bauw atau ± 424 Ha, setiap KK mendapat bagian tanah 1 bauw dengan perincian 0,25 bauw untuk pekarangan dan 0,75 bauw untuk persawahan atau perladangan.

Secara terperinci, bedasarkan monografi desa Bagelen Gedongtataan, jumlah rombongan kolonisasi dari daerah Bagelen Purworejo Jawa Tengah yang datang ke Gedongtataan adalah sebagai berikut :

1. Tahun 1905 : 43 orang, terdiri dari 40 orang lakiki-laki dan 3 perempuan, dipimpin oleh Tuan Eteeng.

2. Tahun 1906 : 203 orang (100 KK), dipimpin oleh Tuan Heers.

3. Tahun 1907 : 100 orang (50 KK), dipimpin oleh Tuan Alweek.

4. Tahun 1908 : 500 orang (250 KK)dipimpin oleh Tuan Baang.

5. Tahun 1909 : Jumlah jiwa yang didatangkan tidak jelas, begitu pula yang memimpin.

Perkembangan Desa Bagelen

DULU (1905) hingga 6 Juni 1987, Desa Bagelen ini terdiri dari 10 pedukuhan, yaitu : Pedukuhan bagelen I, Bagelen II, Bagelen III, Bagelen IV, Bagelen V (Jembarangan), Bagelen VI (Kutoarjo I), bagelen VII (Kutoarjo II), Bagelen VIII (Karang Anyar I), Bagelen IX (Karang Anyar II), dan Pedukuhan Bagelen X (Wonorejo).

KINI, sejak tanggal 6 Juni 1987, Desa Bagelen telah dimekarkan menjadi beberapa desa, dan sekarang wilayahnya terdiri dari : pedukuhan Bagelen I, Bagelen II, Bagelen III, dan Pedukuhan Bagelen IV.

KEPALA DESA BAGELEN DARI WAKTU KE WAKTU :

1. Bapak POERWO : 1905 – 1907

2. Bapak KARTOREDJO : 1907 – 1912

3. Bapak SASTRO SENTIKO : 1912 – 1920

4. Bapak PAWIRO TINOYO : 1920 – 1945

5. Bapak MANGUNREJO : 1945 – 1958

6. Bapak SASTRO SUWARNO : 1958 – 1968

7. Bapak SUPARMAN : 1968 – 1970

8. Bapak AHMAD FARIJI : 1970 – 1980

9. Bapak TOYO DAY RIZAL : 1980 – 1988

10. Bapak WAGISO : 1988 – 2006

11. Bapak EDI SUPRIYANTO : 2006 – Sekarang (2009)

sumber :

http://pesawarankab.go.id/p1/index.php?option=com_content&view=article&id=85%3Asejarah-desa-bagelen&catid=37%3Aflow-images

12 Juni 2011

DOLALAK KABUPATEN PURWOREJO BERLAGA KE TINGKAT NASIONAL


Tim Kesenian Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KB-PP) Kabupaten Purworejo menjuarai Lomba Tari yang mengusung nuansa penyuluhan Keluarga Berencana dengan nama kegiatan Lomba Tari “Komunikasi Informasi Edukasi Keluarga Berencana (KIE-KB) Melalui Seni Budaya Tradisional” tingkat Propinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh BKKBN Propinsi Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 11 Juni 2011 dengan mengambil tempat di Taman Budaya Raden Saleh Semarang.
Tim Kesenian KB-PP Kab. Purworejo
Kabupaten Purworejo maju ke tingkat Propinsi bersama dengan Kabupaten Magelang yang sama-sama mewakili Bakorwil II Surakarta. Jumlah penampil dalam event ini adalah 6 (enam) grup, mewakili 3 (tiga) Bakorwil. Bakorwil I diwakili oleh Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal, Bakorwil II diwakili oleh Kabupaten Purworejo dan Magelang sedangkan Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banjarnegara mewakili Bakorwil III.
Tim Purworejo terdiri pengrawit dan penari semuanya berusia remaja sejumlah 10 (sepuluh) anak dibina oleh sanggar tari Prigel, membawakan tarian khas milik Kabupaten Purworejo Dolalak dengan koreografi dan tata musik yang memukau penonton serta dewan juri. Tampilan yang memiliki durasi 13 menit lebih sedikit ini menyelipkan pesan penyuluhan KB seperti usia nikah yang ideal, pengenalan alat kontrasepsi dan  kesejahteraan keluarga dengan balutan tari dan musik Dolalak.
Ketika usai kegiatan dan pengumuman hasil penilaian dewan juri disampaikan oleh Yoyok Priyambodo (ketua dewan yuri), pecah kegembiraan Tim Purworejo dengan diumumkannya Kabupaten Purworejo sebagai Penampil Terbaik I. Dengan demikian berhak mewakili Propinsi Jawa Tengah untuk berlaga di event serupa pada tingkat Nasional yang rencana akan dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada tanggal 24 Juni 2011 selama 3 (tiga) hari. Berturut-turut dibawah ini penampil terbaik I hingga VI adalah : Kab. Purworejo, Kab. Kendal, Kab Purbalingga, Kab. Magelang, Kab. Banjarnegara dan Kab. Semarang.