01 April 2022

SEJARAH SINGKAT TAMAN SISWA PURWOREJO (TULISAN PERTAMA DARI DUA TULISAN)

Suasana Pasar Malam Amal Taman Siswa Purworejo
(1956)

Hari Senin Kliwon tanggal 30 April 1956 adalah hari yang tidak dapat dilupakan oleh masyarakat Purworejo umumnya serta keluarga Taman Siswa Cabang Purworejo khususnya. Apakah sebabnya ? Pada waktu itu tepat jam 18.00 WIB terguntinglah pita yang melintang pada pintu gerbang Pasar Amal oleh Ibu Bupati Purworejo. Suatu tanda bahwa Pasar Malam Amal untuk Pendirian Gedung Taman Siswa Purworejo telah dimulai. Diteruskan dengan kata sambutan dari ketua Panitia (ketua Perguruan Taman Siswa) dan dari bapak Kepala Daerah, yang maksudnya semoga cita-cita yang suci itu dapat tercapai.

Oleh karena amal tersebut ditujukan khusus Taman Siswa Purworejo, maka marilah kita ikuti bagaimana sejarahnya. Taman Siswa yang saat ini masuk di kancah pendidikan nasional didirikan oleh Ki Hadjar Dewantoro  pada tanggal 3 Juli 1922, maka 8 (delapan) tahun kemudian yaitu pada 1930 menyusul Taman Siswa Purworejo lahir. Lahir pada saat ramainya Pergerakan Nasional yang tumbuh subur mengikis pemerintah kolonial. Tumbuhnya Perguruan Taman Siswa senantiasa mendapat rintangan dari pemerintah Hindia Belanda. Orang-orang yang menginginkan kemerdekaan negaranya tidak sedikit yang berlindung dibawah panji-panji Taman Siswa, begitupun di Purworejo. Adapun pelopor dari Taman Siswa Purworejo, pada waktu itu kebanyakan terdiri dari para guru desa dan para pedagang kecil serta sebagian para petani, yang semuanya sadar akan perwujudan negaranya dihari kemudian. Nama-nama mereka diantaranya 1. Sdr. KAMARI ; 2. Sdr. SULEMAN 3. Sdr. MURSID ; 4. Sdr. HADISUMARTO, 5 Sdr, MURSIJAH; 6. Sdr. ABDULLAH ADIWIGENO 7. Sdr. TARMUDI. Orang-orang tersebut yang ditunjuk sebagai panitia, untuk lancarnya pembentukan Perguruan Taman Siswa Purworedjo. Namun rupanya maksud yang suci itu tidak luput dari rintangan yang dilancarkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Para Pegawai Negeri dilarang memasukkan anaknya (untuk bersekolah) di Taman Siswa, karena Taman Siswa menentang pemerintah Hindia Belanda. Disisi lain, penentangan Taman Siswa oleh pemerintah Hindia Belanda diantaranya diwujudkan dalam bentuk mengaitkan taman siswa dengan gerakan komunis dan Taman Siswa dianggap sebagai sekolah liar.

Dari sebab itulah orang-orang yang duduk sebagai pelopor itu bertanggung jawab memasukkan anak-anaknya kedalam Perguruan itu. Adapun tenaga-tenaga, pamong (pengajar) pada waktu itu diantaranya : 1 Sdr. TUMAR, 2. Sdr. SUTOPO; 3 Sdr, SUTOMO; 4 Sdr. Ni SUJATIN. Para personil inilah yang mendukung perkembangan organisasi Taman Siswa Purworejo sampai saat runtuhnya pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1942.  Pada saat jaman penjajahan Jepang, Taman Siswa Purworejo juga terdampak, hanya di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta saja yang diperbolehkan berdiri. Agar tidak mematikan semangat (berorganisasi dan berjuang) maka orang-orang Taman Siswa “berganti baju”, mengganti namanya menurut keadaan setempat, ada yang menamakan diri Taman Tani, Mardi Siswa dan lain-lain.  Tetapi tidak akan pudar api cita-cita Kebangsaan didalam dada masing-masing putera Taman Siswa dengan berpegang teguh pada dasar Pantja Darma (1. Kodrat Alam; 2. Kebudayaan; 3 Kemerdekaan; 4. Kebangsaan; 5. Kemanusiaan).

Di Purworejo pada masa itu Taman Siswa dikelola oleh sdr. AMIR cs (yang pada saat itu menjadi Camat di Borobudur), dengun dibantu oleh: 1. Sdr. JUDOPRAWIRO; 2. Sdr. Sdr. SITI AMINAH; 4. Sdr, SUHARTO; 5. Sdr. SUTIKNO dll.

Pada tgl. 19 - 12-1948 ditutuplah Taman Siswa Purworejo untuk sementara waktu. (Bersambung)

disadur dari Buku Peringatan Taman-Siswa Tjabang Purworedjo Tahun 1930-1956 

Klik disini untuk membaca tulisan kedua


Tidak ada komentar:

Posting Komentar