26 Desember 2011

PROSESI GUYANG JARAN (Desa Karangrejo, Kec. Loano)

Prosesi Guyang Jaran memiliki arti sebagai berikut. Dalam bahasa Jawa, Guyang = Memandikan, sedangkan Jaran = Kuda. Jika dilihat dalam konteks yang dimandikan adalah kuda kepang, maka arti lengkapnya adalah : Memandikan kuda kepang. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Grup Kesenian Kuda Kepang “Turonggo Seto” bersama warga masyarakat lainnya secara rutin setiap tahun sekali. Waktu pelaksanaannya adalah tepat dalam bulan Sura (bulan pertama dalam kalender Jawa). Lazimnya dilaksanakan setelah tanggal 10 Sura. Untuk tanggalnya tidak ditentukan, namun biasanya para sesepuh desa mendapatkan wisik / pesan ghaib dari para leluhur desa, kapan pelaksanaan kegiatan ini harus dilaksanakan.
Adapun maksud dari kegiatan ini adalah Pertama, sebagai wujud rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas keberlangsungan dan keselamatan kegiatan kesenian kuda kepang dan kehidupan masyarakat yang harmonis selama ini. Kedua, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar grup kesenian dan masyarakat desa selalu mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, kedamaian dan ketentraman, dan desa mereka dapat terwujud sebagai desa yang gemah ripah loh jinawi. Ketiga, untuk “membersihkan” kelompok kesenian ini dari hal-hal tidak baik yang telah ditemui dalam setiap pementasan maupun keseharian selama satu tahun yang lalu. Pembersihan ini ditandai dengan mencuci semua kuda kepang yang dimiliki oleh grup tersebut di sungai.
Adapun urutan kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Ziarah ke makam para leluhur desa.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh para tokoh masyarakat, menuju kompleks makam desa yang terletak di puncak bukit. Dengan membawa uba rampé / kelengkapan, seperti bunga. Para tokoh masyarakat ini mengadakan ziarah dan berdoa di makam para leluhur.  Makam leluhur yang dituju adalah makam dari Pangeran Dipokusumo / Imam Muhammad dan makam para nayaka praja (pejabat) Nagari Purworejo (sebutan dalam bahasa Jawa terhadap Kabupaten Purworejo pada jaman Hindia Belanda) yang dikebumikan di desa setempat.
2.  Guyang Jaran
Prosesi pertama ini ditandai dengan dikeluarkannya kuda kepang dari “Kandang Jaran”. Kandang = tempat tinggal binatang, Jaran = kuda. Kandang disini adalah istilah / kata lain dari rumah warga yang dijadikan tempat penyimpanan kuda kepang. Dari rumah / kandang jaran tersebut kuda kepang diarak dengan diiringi tetabuhan menuju ke pinggir sungai yang mengaliri desa yaitu sungai Bogowonto dan sungai Gading. Pada pertemuan antara 2 (dua) aliran sungai inilah nanti kegiatan Guyang Jaran akan dilaksanakan.
Pada waktu yang telah ditentukan, para pengrawit (penabuh gamelan) dan penari akan melaksanakan tarian di tempuran sungai tersebut dengan menceburkan kuda kepang ke dalam air.
Para penari yang ikut dalam prosesi ini adalah yang telah berusia lanjut / tua, dikarenakan yang disajikan dalam prosesi ini adalah tarian kuno / tradisi. Karena menurut kepercayaan setempat, pementasan kuda kepang harus didahului dengan tarian yang tradisi, setelah itu baru diperbolehkan tarian yang sudah mendapat sentuhan gerak modern.
Para penari kelompok kuda kepang dalam prosesi ini mempergunakan pakaian serba hitam.
3.  Wilujèngan
Wilujèngan / selamatan merupakan kegiatan kenduri dengan menghadirkan seluruh anggota kelompok kuda kepang dan masyarakat. Dilaksanakan pada malam hari setelah kegiatan Guyang Jaran. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan dengan mengambil tempat di Balai Desa. Sajian yang dikendurikan adalah makanan khas desa setempat, bahkan makan bersama dilaksanakan dengan menggunakan pincuk /daun pisang yang dibentuk menyerupai piring.
4.  Pentas
Prosesi terakhir adalah pentas. Pentas ini merupakan pergelaran yang dilakukan oleh seluruh pemain dan pengrawit terdiri dari 3 (tiga) generasi. Mereka terdiri dari : generasi anak-anak, pemuda, dan orang tua.  Masing-masing menari dengan waktu yang bergantian. Ini menunjukkan atau sebagai wujud dari :  Pertama, kebersamaan baik dalam grup kesenian itu sendiri maupun antar grup kesenian dan masyarakat. Karena pementasan ini ditonton atau dinikmati oleh masyarakat luas. Kedua, terjadi proses regenerasi dalam grup atau kesenian kuda kepang di desa setempat, merupakan bentuk nyata upaya dari para sesepuh / orang tua dalam meneruskan atau melanggengkan kesenian ini. Kegiatan ini dilaksanakan di tanah lapang, dengan durasi lama.

05 November 2011

ARCA EMAS SEPLAWAN

Pada tahun 1979 sepasang arca dewa-dewi dalam bentuk chitra (arca “penuh” atau digambarkan tiga dimensi) ditemukan di dalam sebuah gua di lereng Gunung Seplawan, tepatnya di Dusun Grotto, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah. Arca dari emas tersebut berada di dalam sebuah wadah perunggu dan terletak di atas stalakmit yang dipotong sehingga menyerupai altar.

Sepasang arca yang dibuat dari logam mulia itu (arca kautuka) adalah Siva dan Parvati yang berdiri di atas dua buah lapik. Lapik pertama berbentuk persegi dengan bahan perak dan berukuran 4,6 cm x 9,8 cm x 9,8 cm, sedangkan lapik kedua berbentuk padma dari emas berukuran 2,9 cm x 7,2 cm, pada permukaannya dihias dengan motif geometris. Tinggi arca Siva 12,6 cm sedangkan arca Parvati hanya 11,7 cm, arca-arca tersebut termasuk dalam golongan arca chala, yaitu arca yang dapat dipindahkan karena berukuran kecil.

Di dalam masing-masing lapik terdapat batu permata berwarna-warni, manik-manik, lembaran emas, dan tanah yang merupakan intisari dari keberadaan dewa-dewi. Tanpa inti tersebut dewa dan pasangannya tidak akan bertempat pada arca tersebut dengan demikian arca tidak akan ada artinya dalam pemujaan.

Baik Siva maupun Parvati digambarkan memakai jatamukuta dan hiasan kepala bermotif flora. Di belakang kepala mereka masing-masing terdapat siraschakra yang dihias dengan garis-garis yang membentuk bulu burung atau api, dibalik siraschakra tersebut terdapat chattra. Perhiasan yang digunakan oleh kedua arca tersebut adalah subang atau anting-anting dengan hiasan daun (patrakundala), kalung (hara), kelat bahu (keyura), gelang siku, gelang tangan (kankana), ikat dada (kuchabandha), dan ikat pinggang (udharabandha atau katibandha), serta selendang. Siva dan Parvati mengenakan tali kasta atau upavita yang digambarkan secara sederhana dengan menggores tubuhnya, namun tali kasta tersebut tidak digambarkan sampai tubuh bagian belakang. Bagian belakang kedua arca tersebut terdapat semacam bunga berbentuk segienam.

Siva digambarkan berdiri dengan sikap samabanga dengan dua tangan, dan yang menarik arca Siva tersebut digambarkan tanpa menggunakan atributnya. Telapak tangan kanan Siva menengadah, tangan kirinya menggandeng tangan kanan pasangannya, matanya melotot, pada dahinya terdapat goresan berbentuk bulatan kecil. Pakaian yang dipakai adalah kain dengan motif bunga yang dibuat dengan cara menggoreskan polanya, pada bagian pinggang diikat dengan selendang. Kain yang dipakai Siva menutup dari pinggul sampai lutut kiri sedangkan di bagian kanan hanya menutup pinggulnya saja, namun bagian di belakang kain tersebut menutup sampai mata kaki. Jenis pakaian tersebut mirip dengan dhoti dari India atau dodot dari Jawa.

Pasangan Siva, Parvati juga digambarkan berdiri tegak (samabanga) dan bertangan dua. Tangan kanannya menggandeng Siva, sedangkan tangan kirinya terletak di depan perutnya dan membawa sebuah benda bulat. Pakaian yang dikenakan tidak berbeda jauh dengan Siva, kainnya menutup pinggul sampai dengan mata kaki. Kain pada bagian pinggul tampaknya dilipit, terlihat dari bentuknya yang berliku-liku dan kemudian diikat dengan selendang, kain yang dipakai oleh Parvati semakin memperjelas bahwa jenis pakaian tersebut mirip dengan dhoti atau dodot.

Tampaknya pembuatan arca Siva dan Parvati itu tidak hanya menggunakan sebuah cetakan saja. Terlihat jelas bahwa arca tersebut terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu lapik persegi, lapik berbentuk padma, arca, chattra, siraschakra, dan hiasan berbentuk segienam yang masing-masing dibuat terpisah, bagian-bagian tersebut kemudian digabungkan.

Antara lapik persegi dan padmasana disatukan dengan menggunakan empat buah paku emas pada keempat arah mata angin, namun salah satu pakunya kini telah hilang. Antara arca dan padmasana disatukan dengan menggunakan paku emas pula. Demikian juga dengan siraschakra, chattra, dan hiasan berbentuk segienam, masing-masing disatukan dengan paku atau keling emas.

Meskipun atribut yang dibawa dapat dikatakan tidak ada kecuali benda yang di tangan kiri Parvati, terdapat beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sepasang arca tersebut. Rambut masing-masing arca dalam bentuk jatamukuta, mata arca laki-laki melotot, hal itu menunjukkan bahwa arca dalam aspek krodha, selain itu pada dahi terdapat goresan berbentuk bulat, mungkin merupakan penggambaran trinetra. Arca perempuan membawa mutiara yang mampu mengabulkan keinginan atau cudamani, atribut tersebut biasa dibawa oleh Visnu. Namun, penggambaran Siva dan Visnu dalam sebuah arca sangat umum dikenal pada Masa Jawa Kuno, yaitu Harihara.

Arca tersebut diperkirakan berasal dari masa Klasik Jawa Tengah, sekitar abad IX-X Masehi berdasarkan bentuk padmasananya yang khas masa Klasik Jawa Tengah dan motif hias pakaian yang dikenakan mirip dengan motif hias tokoh Rama dan Sinta pada relief mangkuk temuan dari Wonoboyo.

*)disarikan dari Indonesian Gold Maud Girard Geslan, Indonesian Gold, Treasure from the National Museum Jakarta, Queenslan Art Gallery, Gallery Store, Australia, 1999.

Sumber : Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah (http://purbakalajawatengah.org/)